Pagiku dalam Himpitan Doa
Aku masih percaya bahwa tangan Tuhan itu
banyak, selagi masih ada doa pasti ada sebuah jawaban. Tinggal bagaimana kita
mau bersabar menunggu hasilnya.sesekali aku merenung dengan apa yang sedang
kualami saat ini. Sebuah kedewasaan di umur 20 tahun, tepatnya di awal semester
6. Sekarang bagiku waktu itu adalah emas.
Mungkin Tuhan sedang menguji seberapa
kuat aku menjalani ujian ini, dimana aku harus hidup mandiri tanpa bergantung
dengan mereka. Membagi waktu di antara kesibukan kuliah, organisasi, hoby, dan
mengajar. Sungguh hal yang baru mengena di hati untuk semester ini.
Selalu ada doa disetiap mata, tangan, kaki,
mulut, dan hati yang kadang risau. Aku belajar dari mereka yang ada di bawahku,
keterhimpitan ekonomi tak membuat mereka menanggalkan senyum. Namun malah
menjadikannya sebagai kenikmatan Tuhan.
Beginilah hidup, tak selamanya kita
merasakan sebuah kenikmatan hidup berkecukupan apalagi mewah. Ada uang kaki
melangkah, tak ada uang kaki mematung. Ironis sekali, jika kita menangis
gara-gara tak memiliki uang. Berdoa dan berusahalah, pasti Allah akan
memberikan tanganNya lewat apa yang ia kehendaki.
Doaku pagi ini semoga alam selalu
mendukungku, memberiku udara sejuk dan nuansa dingin seperti ini. Harapanku hari
ini adalah tetap tersenyum, sabar, ikhlas, dan yang terpenting hidup sederhana.
By: Odilia p.
Komentar
Posting Komentar