Burung-burung Mati di Jeruji

"Mana kertas lipat?????," sambil mengobrak-abrik tumpukan buku di lemari kecilku. "Yupz, ini dia," masih ada beberapa lembar warna: merah, hijau, jingga. Tak apalah yang penting kertas ini akan bermetamorfosis layaknya burung sungguhan.

Tak terasa sudah ada 12  burung hinggap di mejaku. Tinggal menggantungnya di hilir mudiknya angin. Tepatnya di belakang jeruji jendela kamarku. kau memberi kesan kenangan dalam rindu yang tak terbantahkan. Yah... aku merindukannya, aku rindu ia yang mengajariku melipat kertas-kertas ini, hingga terbentuklah kamu si burung-burung mati.

Katanya burung-burung ini akan menemaniku disaat aku merindukannya. Ia pernah memintaku tuk pejamkan mata, lalu ia desirkan sajak cinta dikedua pendengaranku. Ujarnya, ruhnya akan lepas dan masuk kedalam burung-burung itu. Sehingga hatiku tak pernah takut kehilangannya. Ia benar-benar hidup dimataku, sangat indah dan mampu  membawa duniaku ke alam kenangan. 

Ia tak pergi jauh melampaui alamnya. Ia hanya pada jarak dan waktu yang tak tepat. Di mana kau jauh disana, dan aku jauh disini. Aku yakin, ketika kau rindukan pemilik hatimu, pasti kau lipat kertas-kertas itu menjadi burung-burung mungil. dan kau temukan rindu itu pada pesona hatinya. 

Burung-burung matiku, jangan pernah bosan menemani kesendirian ini. good night....


Komentar

Postingan Populer