SELAI SAHABAT




Ada banyak warna dan rasa dihamparan selai ini, sangat nikmat jika kulapisi dengan beberapa helai roti yang akan ditemani dengan secangkir kopi. Akupun mulai menghela nafas, menikmati paginya puncak bersama sayup-sayup kabut yang tak mudah kutepis oleh mata telanjang.  

Kadang aku merasa sedih jika sahabat-sahabatku lagi cekcok gara-gara hal sepele. Aku menyadari bahwa tak selamanya persahabatan itu akan selalu baik dan berjalan mulus. Itulah warna dan rasa yang sedang ku alami untuk saat ini. Menghadapi mereka yang memiliki karakter berbeda-beda itu butuh proses bukan sekedar tahu tapi tak memahami dan tak bisa memberikan solusi.

Mungkin persahabatan ini bisa dibilang baru, kita bisa saling kenal dan akhirnya bisa sedekat ini karena kita satu kelas dengan jurusan sama tepatnya di fakultas Bahasa dan seni salah satu universitas di Kota Kembang. Aku bisa berada di sinipun tak sendirian, aku masih bersama mereka ke lima sahabatku. sebelumnya kita sudah merencanakan pergi ke sini,  mengisi kekosongan libur panjang.

Nampaknya sudut mata chika dan resya menyimpan kerisauan yang cukup mendalam. Putih matanya lambat laun berubah menjadi kemerah-merahan, akupun bergegas menghampirinya.

“kalian kenapa?” tanyaku

 Mereka diam seribu Bahasa, hanya tetesan air mata yang menjawab pertanyaanku. Lalu kubalikkan badan untuk mengambil sekotak tisu untuk mereka. Kudekati mereka, tapi apa yang terjadi. mereka memeluk erat tubuhku dengan isak tangis yang semakin kencang. Sangat lama menanti cerita chika dan resya, mengapa mereka seperti ini.

Seiring detak jarum yang selalu berputar, tepatnya kala mentari mulai naik keatas. Mereka mulai membuka mulut untuk berbicara.

“Entah, apa salahku ca?” gerutu chika
“Maksut pembicaraanmu ini apa chik? Sejauh ini aku tidak tahu mengapa kalian menangis secara bersamaan?” tanyaku keheranan
“Kenapa sahabat kita yang satu itu selalu merasa dirinya paling benar, padahal kita ini hanya manusia yang tak selalu benar”, jawabnya.

Aku bisa menebak siapa yang dimaksut chika? Tak bukan dan tak lain adalah mecca. Salah satu sahabat kita, memang sulit untuk menyentuh hati yang keras dan suka hidup mewah bak ratu di istana emas.

“sudahlah, kalian tak perlu menangis seperti ini. Sebagai sahabat, kita harus bisa memahami karakter masing-masing sayang”, ujarku sembari menenangkan mereka. Sebenarnya aku juga belum bisa menyelesaikan masalah ini, karena hati mereka masih naik turun, apalagi mecca dengan keegoisannya yang tak pernah padam. Memang butuh waktu untuk mengubah segalanya.  


Bersambung…

Komentar

Postingan Populer