SELAI SAHABAT
Kadang aku merasa sedih jika
sahabat-sahabatku lagi cekcok gara-gara hal sepele. Aku menyadari bahwa tak
selamanya persahabatan itu akan selalu baik dan berjalan mulus. Itulah warna
dan rasa yang sedang ku alami untuk saat ini. Menghadapi mereka yang memiliki
karakter berbeda-beda itu butuh proses bukan sekedar tahu tapi tak memahami dan
tak bisa memberikan solusi.
Mungkin persahabatan ini bisa
dibilang baru, kita bisa saling kenal dan akhirnya bisa sedekat ini karena kita
satu kelas dengan jurusan sama tepatnya di fakultas Bahasa dan seni salah satu
universitas di Kota Kembang. Aku bisa berada di sinipun tak sendirian, aku
masih bersama mereka ke lima sahabatku. sebelumnya kita sudah merencanakan
pergi ke sini, mengisi kekosongan libur
panjang.
Nampaknya sudut mata chika dan
resya menyimpan kerisauan yang cukup mendalam. Putih matanya lambat laun berubah
menjadi kemerah-merahan, akupun bergegas menghampirinya.
“kalian kenapa?” tanyaku
Mereka diam seribu Bahasa, hanya tetesan air
mata yang menjawab pertanyaanku. Lalu kubalikkan badan untuk mengambil sekotak
tisu untuk mereka. Kudekati mereka, tapi apa yang terjadi. mereka memeluk erat
tubuhku dengan isak tangis yang semakin kencang. Sangat lama menanti cerita
chika dan resya, mengapa mereka seperti ini.
Seiring detak jarum yang selalu
berputar, tepatnya kala mentari mulai naik keatas. Mereka mulai membuka mulut
untuk berbicara.
“Entah, apa salahku ca?” gerutu
chika
“Maksut pembicaraanmu ini apa
chik? Sejauh ini aku tidak tahu mengapa kalian menangis secara bersamaan?”
tanyaku keheranan
“Kenapa sahabat kita yang satu
itu selalu merasa dirinya paling benar, padahal kita ini hanya manusia yang tak
selalu benar”, jawabnya.
Aku bisa menebak siapa yang
dimaksut chika? Tak bukan dan tak lain adalah mecca. Salah satu sahabat kita,
memang sulit untuk menyentuh hati yang keras dan suka hidup mewah bak ratu di
istana emas.
“sudahlah, kalian tak perlu
menangis seperti ini. Sebagai sahabat, kita harus bisa memahami karakter
masing-masing sayang”, ujarku sembari menenangkan mereka. Sebenarnya aku juga
belum bisa menyelesaikan masalah ini, karena hati mereka masih naik turun, apalagi
mecca dengan keegoisannya yang tak pernah padam. Memang butuh waktu untuk
mengubah segalanya.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar