gubahan rasa
Sedikit cerita yang akan tertuang dari gubahan rasa kedalam secarik
kertas.
Teruntuk senja diperaduan...
Kaulah saksi bisu itu, kaulah yang tau bagaimana anak
manusia itu bercengkrama. Memandang indah pesonamu. Senja, kala itu kau buat
mereka saling meluapkan rasa, memadu kerinduan untuk saling bernostalgia. Mata
mereka saling menatap, semakin berkunang kunang karena rindu yang teramat
dalam. Jarak yang memisahkan membuat keduanya semakin larut akan manisnya
kenangan, hatinya berdebar kencang seperti deburan ombak, pikirannya melayang
terbang bagai burung, dan suaranya mulai paruh karena bingung mau bicara apa.
Karang-karang yang terdampar, air laut yang semakin
berkilau, membuat mereka tak ingin bergeser dari sudut pandang kemolekan itu.
Mereka melukiskan cerita cintanya seperti senja dan membukukannya seperti
langit. Mungkinkah mereka mampu mempertahankan kebahagiannya seperti senja dan
langit sore itu? Adakah keambiguan cinta yang sedang mereka alami? Disaat
kebahagiaan itu muncul, salah satu dari mereka harus pergi tuk kelangit
menggapai semua angan dan citanya. Ombakpun semakin menggerutu menemani
kesendirian dalam senja, tetap termenung mematung disudut kesendirian. Tak
henti-hentinya ia berdoa diantara puing-puing sisa indahnya bersama langit nan
jauh disana. Andai saja waktu bisa memberinya kesempatan untuk bertemu, ia akan
bilang “AKU KAN TETAP MENUNGGUMU” sampai senja menyatu denganmu langit.
Komentar
Posting Komentar