ALHAMDULILLAH AKU HAMIL
Proses kehidupan manusia akan terus berjalan sampai nanti ia menemukan tempat yang dituju. Namun tak semua jalan itu semulus ruas jalan tol, pasti akan ada hambatan entah itu tikungan tajam, tanjakan, turunan, atau lubang kecil sekalipun. Saya tahu betul bahwa hari ini pasti akan terjadi, dulu hanya angan-angan saja dipikiran. Setelah saya menikah semua berubah drastis, keluarga baru, lingkungan baru, tempat kerja baru dan temen-temen baru. Semua serba baru di dunia nyata.
Pasca menikah yang diharapkan adalah buah hati. Mungkin memang akan terasa hambar jika rumah tangga tak ada tangisan sikecil, begitu pula yang saya rasakan setelah menikah. Dua bulan resmi menyandang status sebagai istri, sempat deg-degan saat masa haid tiba. Berharap tak keluar darah kala itu, tapi Tuhan maha baik, Tuhan masih meminjamiku waktu untuk mondar mandir ke Semarang menyelesaikan Tesis. Coba kalau kala itu Tuhan sudah mengamanahiku malaikat kecil. Mungkin saya akan kelelahan atau jatuh sakit.
September bahagia, pagi2 setelah subuh beraniin buat testpack sendiri. Awalnya kayak gak yakin, karena ini testpack kedua setelah yang pertama gagal alias gak nunjukin 2 garis merah. Jadi agak takut gagal lagi. Tapi, setelah beraniin diri dan nunggu dua garis merah akhirnya lega tapi agak masih kurang percaya. Beneran hamil gak ya? Tapi yakin aja ini positif. Langsung deh bangunin suami. Semua terasa seperti mimpi, "Beneran gak sih? Diperutku udah ada janin", gerutuku dalam hati. Rasanya kala itu undamu ini nano-nano nak. Paginya buat mastiin positif gaknya akhirnya saya ke lab puskesmas dianter mertua kesayangan.
Setelah cek lab ini itu alhamdulillah saya beneran hamil. Berawal dari situlah kehidupan baru dimulai, kabar gembira itu membuat suami lebih protect apalagi mertua yang sayangnya melebihi orang tua sendiri. Sekian ceritanya, next story will be post soon.
Pasca menikah yang diharapkan adalah buah hati. Mungkin memang akan terasa hambar jika rumah tangga tak ada tangisan sikecil, begitu pula yang saya rasakan setelah menikah. Dua bulan resmi menyandang status sebagai istri, sempat deg-degan saat masa haid tiba. Berharap tak keluar darah kala itu, tapi Tuhan maha baik, Tuhan masih meminjamiku waktu untuk mondar mandir ke Semarang menyelesaikan Tesis. Coba kalau kala itu Tuhan sudah mengamanahiku malaikat kecil. Mungkin saya akan kelelahan atau jatuh sakit.
September bahagia, pagi2 setelah subuh beraniin buat testpack sendiri. Awalnya kayak gak yakin, karena ini testpack kedua setelah yang pertama gagal alias gak nunjukin 2 garis merah. Jadi agak takut gagal lagi. Tapi, setelah beraniin diri dan nunggu dua garis merah akhirnya lega tapi agak masih kurang percaya. Beneran hamil gak ya? Tapi yakin aja ini positif. Langsung deh bangunin suami. Semua terasa seperti mimpi, "Beneran gak sih? Diperutku udah ada janin", gerutuku dalam hati. Rasanya kala itu undamu ini nano-nano nak. Paginya buat mastiin positif gaknya akhirnya saya ke lab puskesmas dianter mertua kesayangan.
Setelah cek lab ini itu alhamdulillah saya beneran hamil. Berawal dari situlah kehidupan baru dimulai, kabar gembira itu membuat suami lebih protect apalagi mertua yang sayangnya melebihi orang tua sendiri. Sekian ceritanya, next story will be post soon.
Komentar
Posting Komentar