CAWIRI, BUKIT PANDANG MEMPESONA



Kali ini Brebes benar-benar membuat hati saya klepek-klepek sama pemandangannya. Tepatnya di desa Cawiri Banjarharjo Brebes. Sebenarnya rencana mau ke Cawiri sih sudah lama, berhubung waktunya mepet maghrib jadi kapan-kapanlah ke sananya. Maklum berhubung saya bukan asli orang Brebes jadi waktu itu saya hanya sempat mampir ke Waduk Malahayu saja. Tak banyak yang saya tahu tentang daerah ini. Saya hanya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman saya saat itu. Sayangnya saya tidak beruntung lagi, sampai di atas bukit kira-kira pukul 16.30 WIB itu artinya saya tidak akan berlama-lama di sana. Meskipun sebetulnya view yang kece adalah sore menjelang petang.


Saya pergi ke Cawiri tidak sendiri lho ya, ada seseorang yang selalu menemani dan mengajak saya pergi kemanapun itu. Laki-laki yang sudah mengikat saya dalam komitmen, mengajari saya banyak hal tentang kesederhanaan meskipun kami mampu dan berkecukupan untuk sekedar minum kopi. Eh masnya gak suka ngopi, ngiritlah kantongnya, Haha...
Lanjut ke awal, ternyata papan petunjuk yang dulunya ada sekarang udah gak ada. Alhasil ya pakai insting sopir abadi. Gang masuknya itu samping masjid besar, sayangnya kita gak baca nama masjidnya, kira-kira masuk 200 meteran nanti kalian nemu gapura desa Cawiri. Masuk desa ini tidak ada yang istimewa seperti tak ada pesta yang alam sajikan untuk mata manusia. Semakin masuk kira-kira 1 km jalannya hampir semua rusak berat. Jadi kalian yang mau ke sini siap-siap perutnya diikat kenceng biar gak goncang ya. Ditengah jalan kami sempat berpikiran mau balik aja, karena jalannya sepi banget takutnya kalau ban bocor atau gimana berhubung matahari udah mau pulang. Namun niatan itu hanya bisikan belaka. Semakin naik akhirnya kita ketemu rombongan sapi turun, cuci matanya asik banget liatin sapi seksi manggung di jalan.

Alhamdulillah, naik dikit udah sampai. Tarif masuknya saat itu 5K entah dihitung per orang atau per motor, kita kurang tau. Amazing banget tempatnya, saya pikir hanya ada satu atau dua gardu pandang ternyata eh ternyata sepanjang jalan banyak gardu pandang berdiri kokoh. Tanpa pikir panjang kita memilih berhenti di tengah-tengah, biar ngirit waktu. Sore itu di Cawiri sepi banget jadi kita hanya bertemu pedagang. Katanya tempat ini baru setahunan, namanya ini Bukit Dadablangan. Kata pedagang gini, “gardu ini sampai sana punya saya”, itu artinya tiap pedagang punya bloknya masing-masing. Saya pikir untuk duduk digardunya harus bayar, ternyata sistemnya kayak barter gitu kita duduk dengan cara beli dagangannya pedagang. Sebenarnya gak maksa sih, kitanya ditawarin ya di iyain aja sekalian berbagi rezeki.

Waktunya memanjakan mata dengan makan gorengan hangat yang tak kalah enaknya sama pizza, serasa gak punya beban hidup, yakin deh. Menikmati senja berdua dengan pasangan tak perlu gengsi dan mahal ya, yang terpenting buatlah momen terbaik sebagai pelengkap di album kenangan kalian bersama pasangan. Cukup sekian ceritanya, kita disini Cuma setengah jam aja, habis makan dan kenyang langsung pulang. See you next on my story...




Semarang, 07 September 2017

Komentar

Postingan Populer