BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tasawuf telah dipahami hanya sebagai sarana pendekatan
diri manusia kepada Allah SWT melalui taubat, zikir, ikhlas, zuhud, dan
sebagainya. Tasawuf lebih dicari orang dan ditujukan untuk sekedar mencari
ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia, di tengah pergulatan
kehidupan duniawi yang tak tentu arah ini. Tasawuf mengandung aspek yang sangat
penting yang menjadi fondasi dasar bagi setiap upaya amal untuk meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat, bagi setiap pencari kebenaran dan kesempurnaan
diri dan kehidupannya.
Sejalan dengan itu tasawuf berperan
sebagai wasilah yang tujuannya adalah ma’rifatullah. Tasawuf juga bisa dikatakan
sebagai pelengkap fiqh karena fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh hal-hal material
yang ia pilih secara sadar selama hidupnya. Sehingga ada kemungkinan akan
banyak hijab yang menghalanginya dari mengenal Allah sepenuhnya melalui
ilmunya. Sehingga akhirnya kebutuhan
akan wasilah untuk menuju ma’rifatullah pun niscaya.
Aspek penting tersebut merupakan
salah satu pilar utama epistemologi dalam Islam. Epistemologi Islam ini
sangatlah penting kita kaji sebagai sebuah jalan alternatif di zaman moderen
ini, di mana kebanyakan manusia didominasi oleh ilmu pengetahuan dan budaya
barat. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa tasawuf ini berhubungan dengan masalah
pembersihan dan pengolahan sisi batin diri manusia. Sisi epistemologi tasawuf
sebagai sarana mencapai ma’rifah yang akan menjadi acuan pembahasan dalam makalah
ini
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
telah dirumuskan:
1.
Apa pengertian epistemologi
tasawuf?
2.
Bagaimana
sejarah perkembangan tasawuf?
3.
Bagaimana
hakikat epistemologi tasawuf?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Epistemologi Tasawuf
Filsafat memiliki tiga pilar utama
salah satunya adalah epistemologi. Istilah epistemologi berasal dari bahasa
Yunani yaitu Episteme dan Logos. Episteme artinya ilmu pengetahuan atau kebenaran,
sedangkan logos artinya berpikir, kata-kata atau teori.[1] Epistemologi
berbicara mengenai teori ilmu pengetahuan yang meliputi beberapa hal seperti
karakteristik, asal-usul, kesahihan, dan cara memperoleh ilmu pengetahuan serta
batasannya.
Menurut J. Sudarminta bahwa
epistemologi merupakan upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai
kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial,
dan alam sekitarnya yang mempunyai disiplin ilmu yang bersifat evaluatif,
normatif, dan kritis.[2]
Epistemologi telah diketahui sebagai cabang filsafat yang bergerak mencari
hakikat ilmu pengetahuan, selain itu juga bisa dikatakan sebagai metode dan
sistem yang bertujuan untuk memperoleh realitas sebuah kebenaran dalam ilmu
pengetahuan. Jadi, epistemologi sangatlah penting karena menjadi dasar bagi
filsafat ilmu pengetahuan, khususnya dalam membedakan mana ilmu pengetahuan yang
ilmiah dan mana yang tak ilmiah.
Epistemologi mempunyai sumber
pengetahuan penting sebagai pegangan dalam mencari kebenaran, menurut Plato
bahwa sumber pengetahuan itu adalah rasio (akal). Sedangkan menurut Aristoteles
yang bersebrangan pendapat dengan gurunya Plato, telah mendefinisikan bahwa sumber
pengetahuan adalah pengalaman.[3] maka
dari itu akal dan pengalaman merupakan alat untuk menganalisis data sesuai apa
yang sudah sudah ada kejelasannya.
Dalam ilmu pengetahuan Islam,
tasawuf adalah salah satu cabang ilmu keislaman yang memberikan perhatian
khusus pada aspek spiritualitas yang dimiliki manusia. Ilmu ini merupakan sarana
pensucian jiwa dan akal manusia yang berfungsi mendampingi rasionalitas dalam meraih
kejernihan ilmu pengetahuan, hakikat kebenaran dan kesejahteraaan hidup
manusia. Antara aktifitas fikir dan zikir harus berjalan seimbang, sinergis,
holistik dan integral dalam kehidupan umat manusia secara umum khususnya untuk
kaum Muslim.
Ada banyak pendapat mengenai asal
usul Tasawuf, ada yang berpendapat dari kata shafa yang berarti kesucian.
Selain itu ada yang berpendapat bahwa tasawuf dari kata shuf yang
berarti bulu domba, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada
pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriyah dan sering memakai
jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun. Ada pendapat lain
yang mengatakan berasal dari kata shuffa berarti serambi rendah terbuat
dari tanah liat dan sedikit nyembul diatas tanah diluar Masjid Nabi di Madinah,
tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering
duduk-duduk.[4]
Dari beberapa pendapat diatas, ditarik kesimpulan bahwa tasawuf adalah
orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin untuk menemukan suatu jalan
atau praktek kearah kesadaran dan pencerahan batin.
Menurut Abu Muhammad al-Jariri,
tasawuf adalah hal memasuki atau menghiasi diri dengan akhlak yang luhur dan
keluar dari akhlak yang rendah.[5] Maka
dari itu tasawuf bukanlah hal aneh yang sering dikaitkan dengan kekeramatan.
Karena hakikatnya tasawuf adalah pembersihan jiwa untuk mencapai ketenangan
diri. Orang yang bertasawuf disebut sufi. Sufi adalah orang-orang yang telah
dimampukan Allah untuk mensucikan hatinya dan menegakkan hubungannya dengan
pencipta-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar. Oleh sebab itu,
epistemologi Tasawuf dimulai dengan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang
amal-amal lahiriah yang bertujuan memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya
kepada Allah.
B.
Sejarah
Perkembangan Tasawuf
Tasawuf
sudah menjadi salah satu tradisi Islam yang telah ada pada masa Nabi Muhammad
SAW, praktek tasawuf yang Rasulullah lakukan terpancar dari al-Qur’an yang
beliau sempurnakan dan tafsirkan dalam kehidupannya dan menjadi hukum sakral
yang Rasul bentuk dalam ajaran, pemikiran, perkataan dan sunnahnya. Sufisme
sudah mulai dikenal dikalangan masyarakat sejak dekade akhir abad II H di
kawasan dunia Islam. Fase ini disebut sebagai masa asketisme yang merupakan
awal bibit tumbuhnya sufisme dalam peradaban Islam. Fase ini ditandai munculnya
individu-individu yang lebih mengejar akhirat. Selanjutnya memasuki abad ke III
H sudah menampakkan adanya peralihan dari asketisme kesufisme. Fase kedua ini
ditandai adanya peralihan zahid menjadi sufi.[6] Demikian
perkembangan sejarah tasawuf sehingga melahirkan banyak tokoh-tokoh terkemuka seperti, al-Muhasibi
(w.234 H), al-Harraj (w.277 H), al-Junaidi al-Baghdadi (w.297 H), dan masih
banyak lagi.
Berikut
ada beberapa faktor sejarah yang menyoroti lahirnya tasawuf, faktor-faktor
tersebut dibedakan menjadi faktor intern dan ekstern.
1.
Fakor intern
Tasawuf lahir dilatar belakangi oleh
Islam itu sendiri bukan karena pengaruh dari luar. Faktor-faktor intern
ditemukan dalam al-Qur’an, hadis, dan sunnah Nabi. Ajaran tasawuf yang
bersumber dari sumber-sumber tersebut dilaksanakan oleh Ahlu al-Shaffah dibawah
bimbingan Rasulullah SAW, yang berjumlah tidak kurang dari 300 orang dan tidak
lebih dari 400 sahabat, antara lain Abu Dzar al-Ghifari, Abu Musa al-Asy’ari,
Salman al-Farisi, dan sebagainya.[7]
Hadis yang dipandang mengilhami
lahirnya tasawuf Islam adalah sabda Rasul yang berbunyi, “Barang siapa mengenal
dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”.[8]
Hadis tersebut mengandung makna bahwa ada kedekatan antara Tuhan dan manusia
sekaligus mengisyaratkan bahwa manusia dan Tuhan adalah satu.
2.
Faktor ekstern
Banyak pendapat yang
telah dikemukakan mengenai faktor ekstern, antara lain:[9]
a. Tasawuf lahir
dari pengaruh paham kristen yang menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri di
biara-biara.
b. Tasawuf lahir karena pengaruh dari filsafat Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
c. Pengaruh dari
filsafat Emanasi Plotinus yang membawa paham bahwa wujud memancar dari zat
Tuhan. b. Tasawuf lahir karena pengaruh dari filsafat Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
d. Pengaruh paham
Nirwana, menurut ajaran Budha seseorang harus meninggalkan dunia dan melakukan
kontemplasi.
e. Pengaruh ajaran
Hinduisme yang mendorong manusia meninggalkan dunia dan berupaya mendekatkan
diri kepada Tuhan.
Faktor-faktor ekstern diatas ada
karena tasawuf lahir pada saat umat Islam mempunyai hubungan dengan dunia luar
atau umat agama lain.
Hakikat Epistemologi Tasawuf
Pada umumnya para sufi berbicara
tentang tiga sumber epistemologi tasawuf, yaitu indra, akal, dan hati
(intuisi).[10]
Panca indra manusia adalah alat pertama yang dinyatakan sebagai sumber
pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam material. Metode penelitian yang
menjadi tumpuannyapun adalah metode eksperimen. Pengetahuan yang didapat indra
masih sangat kurang tingkat validitasnya, karenanya ia tidak mampu menunjukkan
pada kebenaran sejati (ma’rifah). Maka dari itu akal dan hati akan melengkapi
proses menuju hakikat bertasawuf.
Banyak orang yang memporsikan akal
dibawah iman, padahal akal dan iman saling berkaitan menuju Allah. Sebab tanpa
akal orang tidak akan beriman, tanpa iman maka nafsu mengendalikan akal akan
bebas tanpa terkendali. Lihatlah skema fungsi akal dibawah ini.[11]Dari skema diatas dapat dilihat bahwa
akal memiliki beberapa rantai pemahamanyang salingberkaitan, pertama
pemahaman agama dan manusia, berfungsi sebagai faktor kontrol terhadap potensi sifat-sifat
manusia serta mengenal diri Tuhan. kemudian pemahaman antara manusia dan dunia,
memahami makna sifat manusia dan alam semesta yang sangat berbeda antara
konsistensi dan hal yang bertentangan karena masing-masing dari mereka sifat
dan hukum pemahaman tersendiri sehingga manusia dapat mengendalikan nafsu dan
perilakunya. Selanjutnya, pemahaman dunia dan agama dapat memperkuat iman
karena agama membimbing menuju terciptanya keharmonisan hubungan dan alam
semesta.
Menurut al-Ghazali, hati diumpamakan
sebagai “Raja” yang memperkerjakan akal sebagai wazirnya. Sebenarnya hati menentukan
kebijakan dan tujuan hidup manusia, sedangkan akal dan nafsu sebagai para
pelaksana dan bawahan yang diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik
dan mencapai tujuan hidupnya. Dalam al-Qur’an biasanya menyebut kata “Qolb” yang
diartikan secara populer sebagai wujud ruhani, dan tidak mesti merujuk pada
segumpal daging yang biasa disebut hati dalam tubuh manusia.[12] Pemaknaan “Qalb” lebih menunjuk pada sesuatu
yang bersifat metafisik, dan bukan material atau jasmani. Ia adalah kemampuan
tingkat tinggi yang dimiliki manusia. Kemampuan inilah yang dapat memahami
kebenaran secara utuh, tetap, dan unik.
Menurut al-Hakim al-Tirmidhi
(255-320 H), seorang tokoh sufi Khurasan dalam kitabnya Bayan al Farq bain
al Shadr wa al-Qalb wa al-Fuad wa al-Lubb menjelaskan berbagai tingkatan
dan fungsi spiritual yang menjadi objek dan sasaran dari maqamat. Menurutnya
secara psikologis ada empat macam tingkatan batin yang ada dalam diri manusia
yaitu shadr, qalb, fu’ad, dan lubb.[13] Masing-masing
dari tingkatan tersebut memiliki karakter dan fungsi berbeda, dapat dilihat
pada tabel berikut:
Gambar
1.2 Tingkatan batin
Tingkatan spiritualitas
|
Shadr
|
Qalb
|
Fu’ad
|
Lubb
|
Cahaya diperoleh
|
Nur
al-Islam
Belajar
membaca
|
Nur al-Iman
Pemberian Allah
|
Nur
al-ma’rifat
Pemberian
Allah
|
Nur
al-Tauhid
Pemberian Allah
|
Kualitas
|
Dapat lupa
|
Mengetahui realitas
|
Melihat realitas
|
Illuminasi Tuhan
|
Predikat jiwa yang ada
|
Muslim
Al-nafs
Al-‘ammarah
|
Mukmin
Al-nafs
Al-muthimah
|
‘Arif
Al-nafs
Al-lawwamah
|
Muwahhid
Al-nafs
Al-muthmainah
|
Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan, shadr adalah hati
bagian luar maka istilah ini sering disebut sebagai dada. Dada disini bukan
berarti fisik tetapi non fisik. Shadr berfungsi sebagai sumber cahaya Islam
(nur al-Islam) yang dapat diperoleh melalui mendengarkan berbagai nasehat
dan membaca, sehingga kualitas shadr terkadang bisa hilang karena lupa. Selanjutnya
qalb adalah lapisan hati yang kedua. Qalb adalah cahaya keimanan (nur
al-Iman) yang diberikan langsung dari Allah, cahaya keimanan yang terdapat
disini kadang meningkat dan kadang berkurang sehingga dapat diketahui
realitasnya.
Fu’ad yang letaknya
lebih dalam dari qalb merupakan sumber cahaya ma’rifah, fu’ad
berfungsi untuk melihat realitas atau hakekatnya. Dan tingkatan paling dalam
adalah Lubb. Lubb adalah aspek spiritualitas yang ada didalam fu’ad,
merupakan simbol dari cahaya tauhid (nur al-Tauhid) yang menerima
rahmat. Masing-masing dari tingkatan diatas menunjukkan tingkatan kesucian sufi
yaitu shadr berkaitan dengan tingkatan muslim, qalb tingkatan
mu’min, fu’ad berkaitan dengan ‘arif, dan Lubb dengan muwahhid.
Hati berbeda dengan indera yang hanya bisa menangkap objek-objek
konkret dan fisik, karena ia dapat menangkap objek-objek non indrawi, tetapi
berbeda dengan akal, yang menggunakan nalar diskurtif, hati dapat mengalami
langsung objek-objek rohani, seperti halnya indra dapat menangkap secara
langsung objek-objek fisiknya, sehingga ia bisa lebih menimbulkan keyakinan
atau kepastian dibanding dengan akal.[14]
Alasan yang paling dasar bagi kelebihan hati dibanding dengan akal
dan juga indera, adalah kenyataan bahwa melalui hatilah Tuhan menyibakkan
rahasia-rahasia keghaiban dalam peristiwa yang disebut mukasyafah.[15]
Dengan demikian tersingkaplah ke dalam hati seorang sufi segala rahasia baik
yang ada di alam nyata maupun alam ghaib, sehingga ia dapat membedakan mana
yang benar-benar sejati dan mana yang ternyata palsu. Allah SWT telah
berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa
seseorang kecuali dengan ijin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha mengetahui
segala sesuatu.” (Q.S. at-Taghaabun:11)
Hati manusia ibarat satu sumber dan manusia dapat mengambil manfaat
dari satu sumber itu dengan menggunakan alat pensucian hati sesuai petunjuk
yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Dalam epistemologi tasawuf, peran pembimbing spiritual sangatlah
berperan penting untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang membimbing,
mendidik, dan menempa muridnya disebut mursyid, sedangkan muridnya disebut
salik, dan jalan yang ditempuh disebut dengan thariqah atau tarekat.
Menjadi mursyid tentu lebih berat ketimbang menjadi salik. Karena
seorang mursyid harus memiliki standar seperti alim, amanah, tawadhu,
terpercaya, wara, sabar, teladan dalam pengamalan syariat, dan tentunya berakhlak
mulia. Sehingga posisi dan kedudukan mursyid terkadang ditentukan oleh sistem
dan organisasi tiap tarekat. Sejatinya, mursyid juga memiliki sifat-sifat lebih
khusus, seperti merasa fakir setelah kaya, merasa rendah setelah tinggi, merasa
sepi setelah populer, memuliakan ilmu pengetahuan dan mengamalkannya, bersih
jiwanya dan lurus jalan pikirannya. Tentu saja sifat tersebut sudah menjadi
sifat alamiah para mursyid.
Banyak ulama besar yang tadinya menolak kedudukan mursyid,
diantaranya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzudin Ibnu Abdis
Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali.
Mereka menyadari bahwa tanpa mursyid sulit untuk sampai pada Allah. Sebab
seorang salik yang berjalan tanpa bimbingan rohani mursyid akan kesulitan
membedakan mana bisikan-bisikan lembut yang datang dari Allah melalui malaikat
atau dari syaitan atau jin.[16]
Itulah sebabnya pada tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang
salik harus melakukan sebuah amalan dan
latihan keruhanian yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa
nafsu dalam rangka pembersihan jiwa agar lebih dekat denga Allah. Tindakan
manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi
merupakan tabir penghalang antara manusia dan Tuhan. Sebagai usaha menyingkap
tabir yang membatasi manusia dengan Tuhan, ahli tasawuf membuat suatu sistem
hierarki sebagai berikut.[17]
Pertama, Takhalli yaitu
membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari maksiat lahir dan batin.
Diantara sifat-sifat tercela yang mengotori hati manusia ialah dengki, hiqd
(rasa mendongkol), su’udzan, sombong, ‘ujub (membanggakan diri),
riya’, kikir. Pemarah. Dalam hal ini Allah berfirman:
“(9) Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (10) dan sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy -Syams:9-10)
Takhalli mengandung
makna menghindarkan diri dari ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Hal
tersebut akan tecapai dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala
bentuk serta melenyapkan hawa nafsu.
Kedua, Tahalli yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji
dengan taat secara lahir dan batin sesuai ketentuan Allah. Apabila manusia
mengisi hatinya dengan sifat-sifat terpuji maka ia akan menjadi cerah dan
terang sehingga dapat menerima cahaya illahi. Sebab hati yang belum dibersihkan
tidak akan dapat menerima cahaya tersebut.
Didalam kitab al-Arba’in, al-Ghazali mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan akhlak yang terpuji ialah bersifat tidak kikir dan tidak boros,
tetapi diantara keduanya atau dengan kata lain, sifat yang baik yaitu bersikap
moderat diantara dua sikap ekstrim.[18]
Ketiga, Tajalli yaitu terungkapnya cahaya ghaib untuk hati. Dalam
hal ini, Allah telah berfirman:
“Allah (Pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi.” (Q.S.an-Nur:35)
Mustafa
Zahri mendefinisikan Tajalli sebagai lenyapnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan,
tersingkapnya cahaya yang selama itu gaib, dan lenyapnya sesuatu ketika muncul
wajah Allah.[19]
Tajalli terkait cahaya yang dipancarkan Allah kedalam hati manusia untuk
membuka hal-hal ghaib. Ketiga sistem diatas memiliki peran masing-masing untuk mengendalikan
hawa nafsu sehingga duniawinya dapat terkontrol. Untuk mengetahui kedudukan
spiritual, Abu Nashr as-Sarraj membaginya kedalam tiga tingkatan, diantaranya:
(1) Tobat, adalah tingkatan pertama yang harus dilakukan bagi orang yang
menempuh penyucian jiwa untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah. Karena
bertobat haruslah membersihkan diri dari segala dosa, kesalahan, serta
kelalaian. (2) Wara, adalah menjauhkan diri dari syubhat dimana hukumnya belum
jelas halal haramnya, menjauhkan diri dari sesuatu yang meragukan hatinya, dan
orang-orang arif dan sanggup menghayati hati nuraninya. (3) Zuhud, adalah kedudukan spiritual yang mulia. Merupakan
dasar bagi mereka yang hendak menuju Allah dengan cara mengkosongkan
kepentingan-kepentingan nafsu dari ketamakan. [20]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Epistemologi tasawuf adalah salah
satu cabang dari ilmu keIslaman yang mengkaji mengenai amal-amal lahiriah yang
bertujuan memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya kepada Allah untuk
mendapatkan ketentraman jiwa. Tasawuf
lahir dilatar belakangi oleh Islam itu sendiri bukan karena pengaruh dari luar.
Berikut Faktor-faktor intern dan ekstern, antara lain: ditemukan dalam al-Qur’an, hadis, dan sunnah
Nabi, tasawuf lahir dari pengaruh paham kristen yang menjauhi dunia dan hidup
mengasingkan diri di biara-biara ,tasawuf lahir karena pengaruh dari filsafat
Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia kekal dan berada di dunia sebagai
orang asing, pengaruh dari filsafat Emanasi Plotinus yang membawa paham bahwa
wujud memancar dari zat Tuhan, pengaruh paham Nirwana, menurut ajaran Budha
seseorang harus meninggalkan dunia dan melakukan kontemplasi, pengaruh ajaran
Hinduisme yang mendorong manusia meninggalkan dunia dan berupaya mendekatkan
diri kepada Tuhan.
Sumber epistemologi tasawuf ada tiga,
yaitu indra, akal, dan hati (intuisi). Panca indra manusia adalah alat pertama
yang dinyatakan sebagai sumber pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam
material. Kemudian akal berfungsi sebagai faktor kontrol terhadap potensi sifat-sifat
manusia serta mengenal diri Tuhan, bukan hanya itu akal juga mampu memahami
alam semesta. Selanjutnya hati, wujud ruhani, dan tidak mesti merujuk pada
segumpal daging yang biasa disebut hati dalam tubuh manusia. Hati lebih
menunjuk pada sesuatu yang bersifat metafisik, dan bukan material atau jasmani.
Ia adalah kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia.
Ahli tasawuf membuat tiga sistem
hierarki yaitu: takhalli (membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari
maksiat lahir dan batin), tahalli (mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji
dengan taat secara lahir dan batin sesuai ketentuan Allah), tajalli (terungkapnya
cahaya ghaib untuk hati). Untuk mengetahui kedudukan spiritual, Abu Nashr
as-Sarraj membaginya kedalam tiga tingkatan yaitu: tobat, wara, dan zuhud.
B.
Saran
Untuk pengembangan lebih lanjut maka
penulis memberikan saran yang sangat bermanfaat dan membantu bagi epitemologi
tasawuf pada masa sekarang. untuk mengoptimalkan kajian yang membahas pensucian
hati melalui tarekat, alangkah baiknya berguru pada seorang mursyid atau yang
ahi dalam bidangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan (bagi
pemula). Karena tak semua yang menjalani tarekat adalah orang yang sudah mampu
dalam semua aspek.
[1] Bambang
Irawan, Mengenal Epistemologi Kaum Sufi, (Jakarta: GP Press, 2002),
hlm.44
[2]J. Sudarminta, Epistemologi
Dasar, Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002),
hlm.18-19
[3]Akhyar Yusuf Lubis,
Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015),
hlm.32
[4]http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka
/detail/tasawuf/allsub/235/definisi-tasawuf.html, diakses 31
Oktober 2016
[5]Sokhi Huda, Tasawuf
Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah, (Yogyakarta: LkiS, 2008), hlm.22
[6]Zuherni AB, Sejarah
Perkembangan Tasawuf, Jurnal Substantia, Vol.13, No.2, Oktober 2011, hlm.250
[7] As’ad
al-Sahmarani, al-Tasawwuf Manyauhu Wa Mustalahatuh, (Bayrut: Dar al-Nafais,
1987), hlm.16
[8]Harun Nasution,
Falsafah Dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm.
61
[9]Harun Nasution,
falsafah dan mistisme..., hlm.56
[10] Mulyadhi
Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Penerbit Erlangga,
2006), hlm.84
[11] Harjoni, Agama
Islam dalam pandangan Filosofis, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.220
[12]Said Aqil
Siroj, Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi,
Bukan Aspirasi, (Bandung:Mizan,2006),hlm.39
[13]Simuh, et.al., Tasawuf
dan Krisis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 28
[14]Mulyadhi
Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf ,... hlm.88
[15]Mukasyafah
adalah di mana seorang manusia dibukakan pintu hatinya untuk secara langsung
dapat menyaksikan (musyahadah) realitas-realitas spiritual yang selama ini
terhijab ratusan ribu cadar.
[16]Nasarudin Umar,
Tasawuf Modern, (Jakarta:Republika,2014), hlm.17
[18] Sokhi Huda, Tasawuf
Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah,... hlm.55
[19] Mustafa Zahri,
Kunci memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), hlm.245
[20]Abu Nashr
as-Sarraj, Al-Luma’ Rujukan lengkap Ilmu Tasawuf, diterjemahkan oleh Wasmukan
dan Samson Rahman, (Surabaya: Risalah Hati, 2014), hlm.90-95
Komentar
Posting Komentar