BAB I

PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang

Tasawuf  telah dipahami hanya sebagai sarana pendekatan diri manusia kepada Allah SWT melalui taubat, zikir, ikhlas, zuhud, dan sebagainya. Tasawuf lebih dicari orang dan ditujukan untuk sekedar mencari ketenangan, ketentraman dan kebahagian sejati manusia, di tengah pergulatan kehidupan duniawi yang tak tentu arah ini. Tasawuf mengandung aspek yang sangat penting yang menjadi fondasi dasar bagi setiap upaya amal untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, bagi setiap pencari kebenaran dan kesempurnaan diri dan kehidupannya.

Sejalan dengan itu tasawuf berperan sebagai wasilah yang tujuannya adalah ma’rifatullah. Tasawuf juga bisa dikatakan sebagai pelengkap fiqh karena fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh hal-hal material yang ia pilih secara sadar selama hidupnya. Sehingga ada kemungkinan akan banyak hijab yang menghalanginya dari mengenal Allah sepenuhnya melalui ilmunya. Sehingga  akhirnya kebutuhan akan wasilah untuk menuju ma’rifatullah pun niscaya.

Aspek penting tersebut merupakan salah satu pilar utama epistemologi dalam Islam. Epistemologi Islam ini sangatlah penting kita kaji sebagai sebuah jalan alternatif di zaman moderen ini, di mana kebanyakan manusia didominasi oleh ilmu pengetahuan dan budaya barat. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa tasawuf ini berhubungan dengan masalah pembersihan dan pengolahan sisi batin diri manusia. Sisi epistemologi tasawuf sebagai sarana mencapai ma’rifah yang akan menjadi acuan pembahasan dalam makalah ini

      B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, telah dirumuskan:

           1.      Apa pengertian epistemologi tasawuf?

           2.      Bagaimana sejarah perkembangan tasawuf?

           3.      Bagaimana hakikat epistemologi tasawuf?
                                                                 BAB II

PEMBAHASAN

      A.    Epistemologi Tasawuf

Filsafat memiliki tiga pilar utama salah satunya adalah epistemologi. Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Episteme dan Logos. Episteme artinya ilmu pengetahuan atau kebenaran, sedangkan logos artinya berpikir, kata-kata atau teori.[1] Epistemologi berbicara mengenai teori ilmu pengetahuan yang meliputi beberapa hal seperti karakteristik, asal-usul, kesahihan, dan cara memperoleh ilmu pengetahuan serta batasannya.

Menurut J. Sudarminta bahwa epistemologi merupakan upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial, dan alam sekitarnya yang mempunyai disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif, dan kritis.[2] Epistemologi telah diketahui sebagai cabang filsafat yang bergerak mencari hakikat ilmu pengetahuan, selain itu juga bisa dikatakan sebagai metode dan sistem yang bertujuan untuk memperoleh realitas sebuah kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Jadi, epistemologi sangatlah penting karena menjadi dasar bagi filsafat ilmu pengetahuan, khususnya dalam membedakan mana ilmu pengetahuan yang ilmiah dan mana yang tak ilmiah.

Epistemologi mempunyai sumber pengetahuan penting sebagai pegangan dalam mencari kebenaran, menurut Plato bahwa sumber pengetahuan itu adalah rasio (akal). Sedangkan menurut Aristoteles yang bersebrangan pendapat dengan gurunya Plato, telah mendefinisikan bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman.[3] maka dari itu akal dan pengalaman merupakan alat untuk menganalisis data sesuai apa yang sudah sudah ada kejelasannya.  

Dalam ilmu pengetahuan Islam, tasawuf adalah salah satu cabang ilmu keislaman yang memberikan perhatian khusus pada aspek spiritualitas yang dimiliki manusia. Ilmu ini merupakan sarana pensucian jiwa dan akal manusia yang berfungsi mendampingi rasionalitas dalam meraih kejernihan ilmu pengetahuan, hakikat kebenaran dan kesejahteraaan hidup manusia. Antara aktifitas fikir dan zikir harus berjalan seimbang, sinergis, holistik dan integral dalam kehidupan umat manusia secara umum khususnya untuk kaum Muslim.

Ada banyak pendapat mengenai asal usul Tasawuf, ada yang berpendapat dari kata shafa yang berarti kesucian. Selain itu ada yang berpendapat bahwa tasawuf dari kata shuf yang berarti bulu domba, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriyah dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun. Ada pendapat lain yang mengatakan berasal dari kata shuffa berarti serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul diatas tanah diluar Masjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk.[4] Dari beberapa pendapat diatas, ditarik kesimpulan bahwa tasawuf adalah orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin untuk menemukan suatu jalan atau praktek kearah kesadaran dan pencerahan batin.

Menurut Abu Muhammad al-Jariri, tasawuf adalah hal memasuki atau menghiasi diri dengan akhlak yang luhur dan keluar dari akhlak yang rendah.[5] Maka dari itu tasawuf bukanlah hal aneh yang sering dikaitkan dengan kekeramatan. Karena hakikatnya tasawuf adalah pembersihan jiwa untuk mencapai ketenangan diri. Orang yang bertasawuf disebut sufi. Sufi adalah orang-orang yang telah dimampukan Allah untuk mensucikan hatinya dan menegakkan hubungannya dengan pencipta-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar. Oleh sebab itu, epistemologi Tasawuf dimulai dengan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang amal-amal lahiriah yang bertujuan memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya kepada Allah.

     B.     Sejarah Perkembangan Tasawuf

Tasawuf sudah menjadi salah satu tradisi Islam yang telah ada pada masa Nabi Muhammad SAW, praktek tasawuf yang Rasulullah lakukan terpancar dari al-Qur’an yang beliau sempurnakan dan tafsirkan dalam kehidupannya dan menjadi hukum sakral yang Rasul bentuk dalam ajaran, pemikiran, perkataan dan sunnahnya. Sufisme sudah mulai dikenal dikalangan masyarakat sejak dekade akhir abad II H di kawasan dunia Islam. Fase ini disebut sebagai masa asketisme yang merupakan awal bibit tumbuhnya sufisme dalam peradaban Islam. Fase ini ditandai munculnya individu-individu yang lebih mengejar akhirat. Selanjutnya memasuki abad ke III H sudah menampakkan adanya peralihan dari asketisme kesufisme. Fase kedua ini ditandai adanya peralihan zahid menjadi sufi.[6] Demikian perkembangan sejarah tasawuf sehingga melahirkan banyak  tokoh-tokoh terkemuka seperti, al-Muhasibi (w.234 H), al-Harraj (w.277 H), al-Junaidi al-Baghdadi (w.297 H), dan masih banyak lagi.

Berikut ada beberapa faktor sejarah yang menyoroti lahirnya tasawuf, faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi faktor intern dan ekstern.

      1.      Fakor intern

Tasawuf lahir dilatar belakangi oleh Islam itu sendiri bukan karena pengaruh dari luar. Faktor-faktor intern ditemukan dalam al-Qur’an, hadis, dan sunnah Nabi. Ajaran tasawuf yang bersumber dari sumber-sumber tersebut dilaksanakan oleh Ahlu al-Shaffah dibawah bimbingan Rasulullah SAW, yang berjumlah tidak kurang dari 300 orang dan tidak lebih dari 400 sahabat, antara lain Abu Dzar al-Ghifari, Abu Musa al-Asy’ari, Salman al-Farisi, dan sebagainya.[7]

Hadis yang dipandang mengilhami lahirnya tasawuf Islam adalah sabda Rasul yang berbunyi, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”.[8] Hadis tersebut mengandung makna bahwa ada kedekatan antara Tuhan dan manusia sekaligus mengisyaratkan bahwa manusia dan Tuhan adalah satu.  

     2.      Faktor ekstern

 Banyak pendapat yang telah dikemukakan mengenai faktor ekstern, antara lain:[9]
     a.    Tasawuf lahir dari pengaruh paham kristen yang menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri di biara-biara. 
      b. Tasawuf lahir karena pengaruh dari filsafat Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
c. Pengaruh dari filsafat Emanasi Plotinus yang membawa paham bahwa wujud memancar dari zat Tuhan.
      d.   Pengaruh paham Nirwana, menurut ajaran Budha seseorang harus meninggalkan dunia dan melakukan kontemplasi.
     e.   Pengaruh ajaran Hinduisme yang mendorong manusia meninggalkan dunia dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Faktor-faktor ekstern diatas ada karena tasawuf lahir pada saat umat Islam mempunyai hubungan dengan dunia luar atau umat agama lain.

Hakikat Epistemologi Tasawuf  

Pada umumnya para sufi berbicara tentang tiga sumber epistemologi tasawuf, yaitu indra, akal, dan hati (intuisi).[10] Panca indra manusia adalah alat pertama yang dinyatakan sebagai sumber pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam material. Metode penelitian yang menjadi tumpuannyapun adalah metode eksperimen. Pengetahuan yang didapat indra masih sangat kurang tingkat validitasnya, karenanya ia tidak mampu menunjukkan pada kebenaran sejati (ma’rifah). Maka dari itu akal dan hati akan melengkapi proses menuju hakikat bertasawuf.

Banyak orang yang memporsikan akal dibawah iman, padahal akal dan iman saling berkaitan menuju Allah. Sebab tanpa akal orang tidak akan beriman, tanpa iman maka nafsu mengendalikan akal akan bebas tanpa terkendali. Lihatlah skema fungsi akal dibawah ini.[11]Dari skema diatas dapat dilihat bahwa akal memiliki beberapa rantai pemahamanyang salingberkaitan, pertama pemahaman agama dan manusia, berfungsi sebagai faktor kontrol terhadap potensi sifat-sifat manusia serta mengenal diri Tuhan. kemudian pemahaman antara manusia dan dunia, memahami makna sifat manusia dan alam semesta yang sangat berbeda antara konsistensi dan hal yang bertentangan karena masing-masing dari mereka sifat dan hukum pemahaman tersendiri sehingga manusia dapat mengendalikan nafsu dan perilakunya. Selanjutnya, pemahaman dunia dan agama dapat memperkuat iman karena agama membimbing menuju terciptanya keharmonisan hubungan dan alam semesta.

Menurut al-Ghazali, hati diumpamakan sebagai “Raja” yang memperkerjakan akal sebagai wazirnya. Sebenarnya hati menentukan kebijakan dan tujuan hidup manusia, sedangkan akal dan nafsu sebagai para pelaksana dan bawahan yang diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mencapai tujuan hidupnya. Dalam al-Qur’an biasanya menyebut kata “Qolb” yang diartikan secara populer sebagai wujud ruhani, dan tidak mesti merujuk pada segumpal daging yang biasa disebut hati dalam tubuh manusia.[12]  Pemaknaan “Qalb” lebih menunjuk pada sesuatu yang bersifat metafisik, dan bukan material atau jasmani. Ia adalah kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran secara utuh, tetap, dan unik.

Menurut al-Hakim al-Tirmidhi (255-320 H), seorang tokoh sufi Khurasan dalam kitabnya Bayan al Farq bain al Shadr wa al-Qalb wa al-Fuad wa al-Lubb menjelaskan berbagai tingkatan dan fungsi spiritual yang menjadi objek dan sasaran dari maqamat. Menurutnya secara psikologis ada empat macam tingkatan batin yang ada dalam diri manusia yaitu shadr, qalb, fu’ad, dan lubb.[13] Masing-masing dari tingkatan tersebut memiliki karakter dan fungsi berbeda, dapat dilihat pada tabel berikut:
Gambar 1.2 Tingkatan batin

Tingkatan spiritualitas

Shadr

Qalb

Fu’ad

Lubb
Cahaya diperoleh
Nur al-Islam
Belajar membaca
Nur al-Iman
Pemberian Allah
Nur al-ma’rifat
Pemberian Allah
Nur al-Tauhid
Pemberian Allah
Kualitas
Dapat lupa
Mengetahui realitas
Melihat realitas
Illuminasi Tuhan
Predikat jiwa yang ada
Muslim
Al-nafs
Al-‘ammarah
Mukmin
Al-nafs
Al-muthimah
‘Arif
Al-nafs
Al-lawwamah
Muwahhid
Al-nafs
Al-muthmainah



Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan, shadr adalah hati bagian luar maka istilah ini sering disebut sebagai dada. Dada disini bukan berarti fisik tetapi non fisik. Shadr berfungsi sebagai sumber cahaya Islam (nur al-Islam) yang dapat diperoleh melalui mendengarkan berbagai nasehat dan membaca, sehingga kualitas shadr terkadang bisa hilang karena lupa. Selanjutnya qalb adalah lapisan hati yang kedua. Qalb adalah cahaya keimanan (nur al-Iman) yang diberikan langsung dari Allah, cahaya keimanan yang terdapat disini kadang meningkat dan kadang berkurang sehingga dapat diketahui realitasnya.

Fu’ad yang letaknya lebih dalam dari qalb merupakan sumber cahaya ma’rifah, fu’ad berfungsi untuk melihat realitas atau hakekatnya. Dan tingkatan paling dalam adalah Lubb. Lubb adalah aspek spiritualitas yang ada didalam fu’ad, merupakan simbol dari cahaya tauhid (nur al-Tauhid) yang menerima rahmat. Masing-masing dari tingkatan diatas menunjukkan tingkatan kesucian sufi yaitu shadr berkaitan dengan tingkatan muslim, qalb tingkatan mu’min, fu’ad berkaitan dengan ‘arif, dan Lubb dengan muwahhid.

Hati berbeda dengan indera yang hanya bisa menangkap objek-objek konkret dan fisik, karena ia dapat menangkap objek-objek non indrawi, tetapi berbeda dengan akal, yang menggunakan nalar diskurtif, hati dapat mengalami langsung objek-objek rohani, seperti halnya indra dapat menangkap secara langsung objek-objek fisiknya, sehingga ia bisa lebih menimbulkan keyakinan atau kepastian dibanding dengan akal.[14]

Alasan yang paling dasar bagi kelebihan hati dibanding dengan akal dan juga indera, adalah kenyataan bahwa melalui hatilah Tuhan menyibakkan rahasia-rahasia keghaiban dalam peristiwa yang disebut mukasyafah.[15] Dengan demikian tersingkaplah ke dalam hati seorang sufi segala rahasia baik yang ada di alam nyata maupun alam ghaib, sehingga ia dapat membedakan mana yang benar-benar sejati dan mana yang ternyata palsu. Allah SWT telah berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. at-Taghaabun:11)

Hati manusia ibarat satu sumber dan manusia dapat mengambil manfaat dari satu sumber itu dengan menggunakan alat pensucian hati sesuai petunjuk yang telah diberikan Allah kepada manusia.

Dalam epistemologi tasawuf, peran pembimbing spiritual sangatlah berperan penting untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang membimbing, mendidik, dan menempa muridnya disebut mursyid, sedangkan muridnya disebut salik, dan jalan yang ditempuh disebut dengan thariqah atau tarekat.

Menjadi mursyid tentu lebih berat ketimbang menjadi salik. Karena seorang mursyid harus memiliki standar seperti alim, amanah, tawadhu, terpercaya, wara, sabar, teladan dalam pengamalan syariat, dan tentunya berakhlak mulia. Sehingga posisi dan kedudukan mursyid terkadang ditentukan oleh sistem dan organisasi tiap tarekat. Sejatinya, mursyid juga memiliki sifat-sifat lebih khusus, seperti merasa fakir setelah kaya, merasa rendah setelah tinggi, merasa sepi setelah populer, memuliakan ilmu pengetahuan dan mengamalkannya, bersih jiwanya dan lurus jalan pikirannya. Tentu saja sifat tersebut sudah menjadi sifat alamiah para mursyid.

Banyak ulama besar yang tadinya menolak kedudukan mursyid, diantaranya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzudin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali. Mereka menyadari bahwa tanpa mursyid sulit untuk sampai pada Allah. Sebab seorang salik yang berjalan tanpa bimbingan rohani mursyid akan kesulitan membedakan mana bisikan-bisikan lembut yang datang dari Allah melalui malaikat atau dari syaitan atau jin.[16]

Itulah sebabnya pada tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang salik harus melakukan sebuah  amalan dan latihan keruhanian yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu dalam rangka pembersihan jiwa agar lebih dekat denga Allah. Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi merupakan tabir penghalang antara manusia dan Tuhan. Sebagai usaha menyingkap tabir yang membatasi manusia dengan Tuhan, ahli tasawuf membuat suatu sistem hierarki sebagai berikut.[17]
Pertama, Takhalli yaitu membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari maksiat lahir dan batin. Diantara sifat-sifat tercela yang mengotori hati manusia ialah dengki, hiqd (rasa mendongkol), su’udzan, sombong, ‘ujub (membanggakan diri), riya’, kikir. Pemarah. Dalam hal ini Allah berfirman: 

            “(9) Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy -Syams:9-10)
Takhalli mengandung makna menghindarkan diri dari ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Hal tersebut akan tecapai dengan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuk serta melenyapkan hawa nafsu.

Kedua, Tahalli yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji dengan taat secara lahir dan batin sesuai ketentuan Allah. Apabila manusia mengisi hatinya dengan sifat-sifat terpuji maka ia akan menjadi cerah dan terang sehingga dapat menerima cahaya illahi. Sebab hati yang belum dibersihkan tidak akan dapat menerima cahaya tersebut.

Didalam kitab al-Arba’in, al-Ghazali mengatakan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang terpuji ialah bersifat tidak kikir dan tidak boros, tetapi diantara keduanya atau dengan kata lain, sifat yang baik yaitu bersikap moderat diantara dua sikap ekstrim.[18]

Ketiga, Tajalli yaitu terungkapnya cahaya ghaib untuk hati. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:

   Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (Q.S.an-Nur:35)

Mustafa Zahri mendefinisikan Tajalli sebagai lenyapnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan, tersingkapnya cahaya yang selama itu gaib, dan lenyapnya sesuatu ketika muncul wajah Allah.[19] Tajalli terkait cahaya yang dipancarkan Allah kedalam hati manusia untuk membuka hal-hal ghaib. Ketiga sistem diatas memiliki peran masing-masing untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga duniawinya dapat terkontrol. Untuk mengetahui kedudukan spiritual, Abu Nashr as-Sarraj membaginya kedalam tiga tingkatan, diantaranya: (1) Tobat, adalah tingkatan pertama yang harus dilakukan bagi orang yang menempuh penyucian jiwa untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah. Karena bertobat haruslah membersihkan diri dari segala dosa, kesalahan, serta kelalaian. (2) Wara, adalah menjauhkan diri dari syubhat dimana hukumnya belum jelas halal haramnya, menjauhkan diri dari sesuatu yang meragukan hatinya, dan orang-orang arif dan sanggup menghayati hati nuraninya. (3) Zuhud, adalah  kedudukan spiritual yang mulia. Merupakan dasar bagi mereka yang hendak menuju Allah dengan cara mengkosongkan kepentingan-kepentingan nafsu dari ketamakan. [20]

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Epistemologi tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu keIslaman yang mengkaji mengenai amal-amal lahiriah yang bertujuan memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya kepada Allah untuk mendapatkan ketentraman jiwa.  Tasawuf lahir dilatar belakangi oleh Islam itu sendiri bukan karena pengaruh dari luar. Berikut Faktor-faktor intern dan ekstern, antara lain:  ditemukan dalam al-Qur’an, hadis, dan sunnah Nabi, tasawuf lahir dari pengaruh paham kristen yang menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri di biara-biara ,tasawuf lahir karena pengaruh dari filsafat Phytagoras yang berpendapat bahwa roh manusia kekal dan berada di dunia sebagai orang asing, pengaruh dari filsafat Emanasi Plotinus yang membawa paham bahwa wujud memancar dari zat Tuhan, pengaruh paham Nirwana, menurut ajaran Budha seseorang harus meninggalkan dunia dan melakukan kontemplasi, pengaruh ajaran Hinduisme yang mendorong manusia meninggalkan dunia dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sumber epistemologi tasawuf ada tiga, yaitu indra, akal, dan hati (intuisi). Panca indra manusia adalah alat pertama yang dinyatakan sebagai sumber pengetahuan yang benar berkaitan dengan alam material. Kemudian akal berfungsi sebagai faktor kontrol terhadap potensi sifat-sifat manusia serta mengenal diri Tuhan, bukan hanya itu akal juga mampu memahami alam semesta. Selanjutnya hati, wujud ruhani, dan tidak mesti merujuk pada segumpal daging yang biasa disebut hati dalam tubuh manusia. Hati lebih menunjuk pada sesuatu yang bersifat metafisik, dan bukan material atau jasmani. Ia adalah kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia.

Ahli tasawuf membuat tiga sistem hierarki yaitu: takhalli (membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari maksiat lahir dan batin), tahalli (mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji dengan taat secara lahir dan batin sesuai ketentuan Allah), tajalli (terungkapnya cahaya ghaib untuk hati). Untuk mengetahui kedudukan spiritual, Abu Nashr as-Sarraj membaginya kedalam tiga tingkatan yaitu: tobat, wara, dan zuhud.

B.     Saran

Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran yang sangat bermanfaat dan membantu bagi epitemologi tasawuf pada masa sekarang. untuk mengoptimalkan kajian yang membahas pensucian hati melalui tarekat, alangkah baiknya berguru pada seorang mursyid atau yang ahi dalam bidangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan (bagi pemula). Karena tak semua yang menjalani tarekat adalah orang yang sudah mampu dalam semua aspek.





[1] Bambang Irawan, Mengenal Epistemologi Kaum Sufi, (Jakarta: GP Press, 2002), hlm.44
[2]J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm.18-19
[3]Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.32
[5]Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah, (Yogyakarta: LkiS, 2008), hlm.22
[6]Zuherni AB, Sejarah Perkembangan Tasawuf, Jurnal Substantia, Vol.13, No.2, Oktober 2011, hlm.250
[7] As’ad al-Sahmarani, al-Tasawwuf Manyauhu Wa Mustalahatuh, (Bayrut: Dar al-Nafais, 1987), hlm.16
[8]Harun Nasution, Falsafah Dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 61
[9]Harun Nasution, falsafah dan mistisme..., hlm.56
[10] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hlm.84
[11] Harjoni, Agama Islam dalam pandangan Filosofis, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.220
 [12]Said Aqil Siroj, Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi, (Bandung:Mizan,2006),hlm.39
[13]Simuh, et.al., Tasawuf dan Krisis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 28
[14]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf ,... hlm.88
[15]Mukasyafah adalah di mana seorang manusia dibukakan pintu hatinya untuk secara langsung dapat menyaksikan (musyahadah) realitas-realitas spiritual yang selama ini terhijab ratusan ribu cadar.
[16]Nasarudin Umar, Tasawuf Modern, (Jakarta:Republika,2014), hlm.17
                         [17]Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah,... hlm.53
[18] Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah,... hlm.55
[19] Mustafa Zahri, Kunci memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), hlm.245
[20]Abu Nashr as-Sarraj, Al-Luma’ Rujukan lengkap Ilmu Tasawuf, diterjemahkan oleh Wasmukan dan Samson Rahman, (Surabaya: Risalah Hati, 2014), hlm.90-95

Komentar

Postingan Populer