Tak Bisa Kubedakan Lagi





Siang yang kupikir pagi, bagiku tak ada lagi perbedaan antara pagi, siang dan malam. Karena aku hanya terpaut pada ruang yang begini saja. Berada dititik terjenuh yang harus aku lewati untuk beberapa bulan kemudian. Tinggal menghitung waktu, begitulah adanya. Aku yang harus berjuang menuju sebuah akhir dari perjuanganku selama ini. Memang tak mudah tapi aku harus yakin seyakin yakinnya bahwa kekuatan terbesarku adalah keluarga. You’re my everything till the end.
Beranjak sejenak menilik luar yang gelap, bukan karena malam tapi ini siang. Hanya saja langitnya berwarna pekat pertanda hujan kan datang sebentar lagi. Tanpa melihatnyapun aku sudah tahu, bahwa aroma ini adalah nuansa hujan yang sudah turun. Ia lembut seperti suara hatiku yang jauh dari rasa rindu. Terasa malu atau bagaimana, tapi sejatinya aku masih punya rindu yang kupersembahkan pada sesosok senja yang masih menanti disana tanpa kutahu siapa dia.
Untuk kesekian kalinya, aku tak mau lagi menangis dalam rinai hujan ini. Karena nantinya aku tak bisa membedakan mana air mataku dan air matanya. Belajar kuat untuk menjadi siapa aku bukan siapa kamu, dia atau mereka. Bukannya aku egois atau tak peduli dengan semuanya. Aku masih butuh waktu untuk mengembalikan mata yang sembab, hati yang remuk, dan tubuh yang renta. Secara fisik aku kuat, namun apa daya hati jika sudah direnggut suasana nostalgia.

Semarang, 27th Feb 2015
By: Afdlila,



Komentar

Postingan Populer