TAK SEINDAH NAMAKU

Rounded Rectangle: Milatul Afdlila 
113411006
TBI 6A
Ibuku memberi seindah nama yang membuat hatiku selalu membuka diri untuk mengikuti sepenggal riwayat. Riwayat kuno yang tersimpan dalam benak terdalam, tentang seorang kekasih Tuhan yang membawa beban kandungan suci. Kandungan itu berisikan seorang anak yang kelak menjadi orang suci tanpa hasil dari selimut lelaki yang tiap malam selalu meneman. (Makna kolokatif: karena kalimat “kandungan itu berisikan seorang anak yang kelak menjadi orang suci” memiliki makna yang sepadan dan pada tempatnya. Sehingga kata “kandungan cocok digunakan berpasangan dengan kata “berisikan seorang anak yang kelak menjadi suci”).  
Hatinya begitu teguh selama sembilan bulan membawa kisah tanpa sebab yang masuk akal, walau disekelilingnya berbagai perbincangan buruk dilemparkan dengan keji ke wajah dukanya, bahkan ke tubuh buncitnya, sampai akhirnya ia menghindar diri dari keramaian.
“Seperti itukah Mariah? Aku pun bernama Mariah Zaitun*. Nama yang hampir sama.”
“Kisah itu yang membuat hati ibu tegar mengurusmu.”
“Kenapa aku diberi nama Mariah Zaitun?”
“Karena Ibu butuh nama Mariah! Ibu ingin seteguh Mariah! Kau mengerti kan?”
Ibuku salah satu deretan panjang korban kebiadaban lelaki yang hidup di zaman modern. Wanita hanyalah makanan.(Makna konotasi: bermakna wanita adalah umpan laki-laki yang tak bisa berbuat apa-apa). Ibuku dimakan dengan rakus, tanpa proses jual beli yang sah, tanpa surat kelegalan jual beli, dan tanpa seizin pihak yang berkenan untuk lelaki menikmati makanan tersebut. Di jalan lengang ia dicegat.
Lelaki kelaparan yang bergerombol itu menerka mangsa bersama-sama di waktu malam sehabis ia berlelah-lelah mengais beberapa rezeki. Cakar para lelaki merobek pembungkus kesucian, mencomot kain penutup kepala kehormatan. (Makna konotatif: kata “lelaki kelaparan” bermakna bukan makna sebenarnya atau sindiran. Dan kata “lelaki” merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan kata “kelaparan”, sehingga muncul makna baru)
Ia bagai es krim yang terbuka pembungkusnya. Mereka menikmati es itu tanpa sungkan dengan dipenuhi jijik ludah penghinaan yang bercampur berbau busuk arak perusak moral. Es itu habis termakan, ia buang tulang-belulangnya yang sudah tak nikmat lagi. (Makna konotatif: awalnya kata “es krim” bermakna makanan yang enak dan lezat. Akan tetapi dalam konteks ini kata “es krim” digunakan sebagai konotasi dari kelamin wanita)
“Sungguh biadab! Terbuka atau tertutup penampilanku, semua sama! Wanita hanya jadi korban kerakusan lelaki yang lapar!”. (Makna afektif: kalimat tersebut berisi perasaan dan emosi si ibu yang berkenaan dengan lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Sehingga kalimat tersebut Nampak lebih nyata ketika digunakan dalam Bahasa lisan)
Aku hanya memandang lesu sewaktu ibu marah, menangis sendirian dalam kamarnya. Tangis yang mencoba untuk tetap tertahan tak terurai keluar. Tapi tak bisa. Aku berlarian dan memeluk ibu erat-erat. Walau aku tak mengeti hati kedukaannya.Tersentak kaget mendengar seucap sendu ibu. Seorang anak yang berumur enam tahun, telah diberitakan suatu hal yang pahit. Dan kenyataan itu dari ibuku. Aku terlahir dari orang tua tunggal.
“Ibu harap, kau jangan seperti Ibu...”
Aku hanya menguraikan air mata. Memandanginya yang tengah menguraikan air mata. Sendu berbaur menderu, seiring tubuh menyatu erat dalam balutan kasih sayang. Tentu, seperti kebanyakan anak-anak lain, anak dari hasil hamil di luar nikah. Aku mendapat cemooh dari tiap teman yang memang membenciku. Dikatakan aku anak haram, anak *******, anak jin, dan berbagai sebutan yang lainnya. Betapa duka, lara, menyelimuti hatiku di setiap kata-kata kotor itu terlontar keluar, masuk ke telingaku. Padahal mereka pun tahu, ibuku hanyalah korban.
Saat aku tumbuh remaja, kehadiranku hanya menjadi godaan lelaki yang bermoral murahan. Aku dianggap sebagai seorang anak yang akan bertubuh murahan. Padahal mereka yang bertubuh murahan. Berkali-kali aku menghindar tapi mereka mengejar. Aku menutupi badanku, menutup kepalaku, dan menutup diri dari hal yang menggoda nafsu, tapi mereka-lelaki yang bertubuh dan bermoral murahan berusaha menelanjangi kehormatanku. Aku lari, dan berlindung di bawah kaki Tuhan.
Tapi, di malam lengang sangat bernasib buruk untuk aku. Aku menghadapi segerombolan lelaki yang lapar. Mereka datang ke rumah di saat keadaan lengang, hanya ada aku. Mereka seperti memasuki rumah pelacuran; tak sambut dengan salam untuk sekedar menghormati tuan rumah. Lantas, kisahku persis seperti yang ibu alami. (Makna stylistic: dalam kalimat tersebut di pilih kata “rumah” bukan pondok, kediaman, atau tempat tinggal. Karena penulis menyesuaikan strata sosial dalam masyarakat).
Kejadian itu begitu menyiksaku. Tapi siapa yang tahu tentang sakit jiwaku. Setelah itu, aku berubah tak seperti yang ibu harapkan, “Maafkan aku Ibu”. Aku tak bisa menahan rasa frustasiku membayang kejadian terkoyaknya kesucianku. Hasratku berontak sendiri tanpa ada yang mau bertanggungjawab. Aku ingin lari melesat ke dunia lain yang cocok untuk wanita malang yang berhasrat garang. Aku tak bisa setabah ibuku yang tetap mempertahankan kesucian setelah kehormatannya terkoyak. Aku tak bisa. Aku ingin pergi meninggalkan ibu dengan penuh balut dosa. Aku hanya pantas melayani lelaki. Tapi, apakah itu keharusan?
Sebelumnya sempat lelaki hadir mendatangiku: memakai kemeja biru, memakai kopiah putih, memakai celana panjang. (Makna konseptual: kata “kemeja biru, kopiah putih, celana panjang” memiliki makna yang sudah terkonsep bahwa “kemeja biru” bermakna kemeja yang berwarna biru, “kopiah putih” bermakna kopiah yang berwarna putih, “celana panjang” bermakna celana yang bentuknya panjang).
Ia teman lamaku. Santun tutur katanya. Tak ketinggalan tentang ibadahnya. Ia selalu berbakti pada orang tua. Ia mencintaiku sejak lama. Ia hadir membawa cahaya cinta. Hadirnya menerangi jiwaku yang sedang redup tak terindahkan. Ia adalah penghias mata. Pancaran cahaya cintanya mengajaku untuk menuju jalinan kesucian cinta. Betapa aku bahagia. Hati berbunga-bunga. (Makna kolokatif: kata “cahaya cinta” memiliki makna yang berkenaan dengan “menerangi jiwa” sehingga kata-kata tersebut cocok digunakan berpasangan dan bermakna sepadan”).
Tapi sisi lain hatiku, aku masih membenamkan aib kotor. Ia belum tahu. Bahkan ibuku pun masih tak tahu. Aku menahan tangis saat ia mengucapkan kalimat kedewasaan cinta itu; mengajakku dalam jalin pernikahan. Seketika bahagiaku sirna, lenyap tak dirasa, berubah menjadi badai yang mengoyak jiwaku. Duka kini hadir menghadap ke wajahnya. Air mata tak mau lagi tertahan. Tangis dihadapannya seakan aku menolak cintanya.
“Kenapa kau menangis. Sungguh, aku ingin mengajakmu menikah. Aku mencintaimu. Kalau kau tidak suka, katakan sejujurnya. Tak perlu kau uraikan tangis.”
Tak kuasa menahan aib. Lantang aku bicara tentang aibku. Dengan sejujurnya aku mengadu pilu tanpa malu. Kenapa mesti malu mengatakan? Kehormatanku pun sudah ditonton banyak orang. Terserah ia mau berkata apa.
Rona perubahan pun hadir padanya. Betapa ia tak berniat lagi mengajakku dalam kesucian. Dirinya bukan lagi harapan untukku sebagai obat rasa frustasi, sebagai peringan hidup dalam membawa aib, dan sebagai penjernih pikiranku yang kotor. Kini hilang dari hadapanku. Ia pergi, tak memandang kenapa aku begini.
Aku menangis, menangis tertahan. Terkurung dalam kamar. Kamar terkunci, agar ibu tak mencurigaiku.Cinta palsu!" Aku kecewa. (Makna reflektif: kata tersebut muncul ketika Mariah kecewa dengan laki-laki yang ia sayangi, jadi kalimat tersebut merupakan respon dari apa yang ia lihat).
 Ia hanya memandang rupaku, rambutku, buah dadaku, dan seluruh tubuhku. Ia tak sepadan dengan kesalehan jiwanya. Ia sama persis dengan lelaki yang lain. Melihat wanita hanya nafsu, nafsu, dan nafsu. Cintanya hanya nafsu belaka! Setelah mendengar aku telah diludahi, manisnya telah terhisap habis, nafsu makanmu hilang melihatku! Ia pergi untuk berganti selera.

Lengkap sudah penderitaanku. Kini harapan kehadiran dari niat suci seorang lelaki hanyalah mimpi. Aku cuma dalam harap, niat suci lelaki itu datang walau dalam mimpi. Itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Analisis by Afdlila

Komentar

Postingan Populer