TAK SEINDAH NAMAKU

Ibuku memberi seindah nama yang membuat hatiku selalu membuka diri
untuk mengikuti sepenggal riwayat. Riwayat kuno yang tersimpan dalam benak
terdalam, tentang seorang kekasih Tuhan yang membawa beban kandungan suci. Kandungan itu berisikan seorang anak yang kelak
menjadi orang suci tanpa hasil dari selimut lelaki yang tiap malam selalu
meneman. (Makna kolokatif: karena kalimat “kandungan itu berisikan
seorang anak yang kelak menjadi orang suci” memiliki makna yang sepadan dan
pada tempatnya. Sehingga kata “kandungan”
cocok digunakan berpasangan dengan kata “berisikan seorang anak yang kelak menjadi
suci”).
Hatinya begitu teguh selama sembilan bulan membawa kisah tanpa
sebab yang masuk akal, walau disekelilingnya berbagai perbincangan buruk
dilemparkan dengan keji ke wajah dukanya, bahkan ke tubuh buncitnya, sampai
akhirnya ia menghindar diri dari keramaian.
“Seperti itukah Mariah? Aku pun bernama Mariah Zaitun*. Nama yang
hampir sama.”
“Kisah itu yang membuat hati ibu tegar mengurusmu.”
“Kenapa aku diberi nama Mariah Zaitun?”
“Karena Ibu butuh nama Mariah! Ibu ingin seteguh Mariah! Kau
mengerti kan?”
Ibuku salah satu deretan panjang korban kebiadaban lelaki yang
hidup di zaman modern. Wanita hanyalah makanan.(Makna konotasi: bermakna wanita adalah
umpan laki-laki yang tak bisa berbuat apa-apa). Ibuku dimakan dengan rakus, tanpa proses jual beli yang sah, tanpa
surat kelegalan jual beli, dan tanpa seizin pihak yang berkenan untuk lelaki
menikmati makanan tersebut. Di jalan lengang ia dicegat.
Lelaki kelaparan yang bergerombol itu menerka mangsa
bersama-sama di waktu malam sehabis ia berlelah-lelah mengais beberapa rezeki.
Cakar para lelaki merobek pembungkus kesucian, mencomot kain penutup kepala
kehormatan. (Makna konotatif: kata “lelaki kelaparan” bermakna bukan
makna sebenarnya atau sindiran. Dan kata “lelaki” merupakan makna denotasi yang
mengalami penambahan kata “kelaparan”, sehingga muncul
makna baru)
Ia bagai es krim yang terbuka pembungkusnya. Mereka
menikmati es itu tanpa sungkan dengan dipenuhi jijik ludah penghinaan yang
bercampur berbau busuk arak perusak moral. Es itu habis termakan, ia buang
tulang-belulangnya yang sudah tak nikmat lagi. (Makna konotatif:
awalnya kata “es krim” bermakna makanan yang enak dan lezat. Akan tetapi
dalam konteks ini kata “es krim” digunakan sebagai konotasi dari kelamin
wanita)
“Sungguh biadab! Terbuka atau tertutup penampilanku,
semua sama! Wanita hanya jadi korban kerakusan lelaki yang lapar!”. (Makna
afektif: kalimat tersebut berisi perasaan dan emosi si ibu yang berkenaan
dengan lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Sehingga kalimat tersebut
Nampak lebih nyata ketika digunakan dalam Bahasa lisan)
Aku hanya memandang lesu sewaktu ibu marah, menangis sendirian
dalam kamarnya. Tangis yang mencoba untuk tetap tertahan tak terurai keluar.
Tapi tak bisa. Aku berlarian dan memeluk ibu erat-erat. Walau aku tak mengeti
hati kedukaannya.Tersentak kaget mendengar seucap sendu ibu. Seorang anak yang
berumur enam tahun, telah diberitakan suatu hal yang pahit. Dan kenyataan itu
dari ibuku. Aku terlahir dari orang tua tunggal.
“Ibu harap, kau jangan seperti Ibu...”
Aku hanya menguraikan air mata. Memandanginya yang tengah
menguraikan air mata. Sendu berbaur menderu, seiring tubuh menyatu erat dalam
balutan kasih sayang. Tentu, seperti
kebanyakan anak-anak lain, anak dari hasil
hamil di luar nikah. Aku mendapat
cemooh dari tiap teman yang memang membenciku. Dikatakan aku anak haram, anak
*******, anak jin, dan berbagai sebutan yang lainnya. Betapa duka, lara,
menyelimuti hatiku di setiap kata-kata kotor itu terlontar keluar, masuk ke
telingaku. Padahal mereka pun tahu, ibuku hanyalah korban.
Saat aku tumbuh remaja, kehadiranku hanya menjadi godaan lelaki
yang bermoral murahan. Aku dianggap sebagai seorang anak yang akan bertubuh
murahan. Padahal mereka yang bertubuh murahan. Berkali-kali aku menghindar tapi
mereka mengejar. Aku menutupi badanku, menutup kepalaku, dan menutup diri dari
hal yang menggoda nafsu, tapi mereka-lelaki yang bertubuh dan bermoral murahan berusaha
menelanjangi kehormatanku. Aku lari, dan berlindung di bawah kaki Tuhan.
Tapi, di malam lengang sangat bernasib buruk untuk aku.
Aku menghadapi segerombolan lelaki yang lapar. Mereka
datang ke rumah di saat keadaan lengang, hanya ada aku. Mereka seperti memasuki
rumah pelacuran; tak sambut dengan salam untuk sekedar menghormati tuan rumah.
Lantas, kisahku persis seperti yang ibu alami. (Makna stylistic:
dalam kalimat tersebut di pilih kata “rumah” bukan pondok, kediaman,
atau tempat tinggal. Karena penulis menyesuaikan strata sosial dalam
masyarakat).
Kejadian itu begitu menyiksaku. Tapi siapa yang tahu tentang sakit
jiwaku. Setelah itu, aku berubah tak seperti yang ibu harapkan, “Maafkan aku
Ibu”. Aku tak bisa menahan rasa frustasiku membayang kejadian terkoyaknya
kesucianku. Hasratku berontak sendiri tanpa ada yang mau bertanggungjawab. Aku
ingin lari melesat ke dunia lain yang cocok untuk wanita malang yang berhasrat
garang. Aku tak bisa setabah ibuku yang tetap mempertahankan kesucian setelah
kehormatannya terkoyak. Aku tak bisa. Aku ingin pergi meninggalkan ibu dengan
penuh balut dosa. Aku hanya pantas melayani lelaki. Tapi, apakah itu keharusan?
Sebelumnya sempat lelaki hadir mendatangiku: memakai
kemeja biru, memakai kopiah putih, memakai celana panjang. (Makna
konseptual: kata “kemeja biru, kopiah putih, celana panjang” memiliki makna
yang sudah terkonsep bahwa “kemeja biru” bermakna kemeja yang berwarna
biru, “kopiah putih” bermakna kopiah yang berwarna putih, “celana
panjang” bermakna celana yang bentuknya panjang).
Ia teman lamaku. Santun tutur katanya. Tak ketinggalan tentang
ibadahnya. Ia selalu berbakti pada orang tua. Ia mencintaiku sejak lama. Ia hadir membawa cahaya cinta. Hadirnya menerangi
jiwaku yang sedang redup tak terindahkan. Ia adalah penghias mata. Pancaran
cahaya cintanya mengajaku untuk menuju jalinan kesucian cinta. Betapa aku
bahagia. Hati berbunga-bunga. (Makna kolokatif: kata “cahaya
cinta” memiliki makna yang berkenaan dengan “menerangi jiwa”
sehingga kata-kata tersebut cocok digunakan berpasangan dan bermakna sepadan”).
Tapi sisi lain hatiku, aku masih membenamkan aib kotor. Ia belum
tahu. Bahkan ibuku pun masih tak tahu. Aku menahan tangis saat ia mengucapkan
kalimat kedewasaan cinta itu; mengajakku dalam jalin pernikahan. Seketika
bahagiaku sirna, lenyap tak dirasa, berubah menjadi badai yang mengoyak jiwaku.
Duka kini hadir menghadap ke wajahnya. Air mata tak mau lagi tertahan. Tangis dihadapannya
seakan aku menolak cintanya.
“Kenapa kau menangis. Sungguh, aku ingin mengajakmu menikah. Aku
mencintaimu. Kalau kau tidak suka, katakan sejujurnya. Tak perlu kau uraikan
tangis.”
Tak kuasa menahan aib. Lantang aku bicara tentang aibku. Dengan sejujurnya
aku mengadu pilu tanpa malu. Kenapa mesti malu mengatakan? Kehormatanku pun
sudah ditonton banyak orang. Terserah ia mau berkata apa.
Rona perubahan pun hadir padanya. Betapa ia tak berniat lagi
mengajakku dalam kesucian. Dirinya bukan lagi harapan untukku sebagai obat rasa
frustasi, sebagai peringan hidup dalam membawa aib, dan sebagai penjernih
pikiranku yang kotor. Kini hilang dari hadapanku. Ia pergi, tak memandang
kenapa aku begini.
Aku menangis, menangis tertahan. Terkurung dalam kamar. Kamar
terkunci, agar ibu tak mencurigaiku. “Cinta palsu!" Aku kecewa. (Makna reflektif: kata tersebut muncul ketika Mariah kecewa dengan
laki-laki yang ia sayangi, jadi kalimat tersebut merupakan respon dari apa yang
ia lihat).
Ia hanya memandang rupaku, rambutku, buah dadaku, dan seluruh
tubuhku. Ia tak sepadan dengan kesalehan jiwanya. Ia sama persis dengan lelaki
yang lain. Melihat wanita hanya nafsu, nafsu, dan nafsu. Cintanya hanya nafsu
belaka! Setelah mendengar aku telah diludahi, manisnya telah terhisap habis,
nafsu makanmu hilang melihatku! Ia pergi untuk berganti selera.
Lengkap sudah penderitaanku. Kini
harapan kehadiran dari niat suci seorang lelaki hanyalah mimpi. Aku cuma dalam
harap, niat suci lelaki itu datang walau dalam mimpi. Itu lebih baik daripada
tidak ada sama sekali.
Analisis by Afdlila
Komentar
Posting Komentar